[Italy Trip] #6 – Pienza

[Italy Trip] #6 – Pienza

Kayaknya gue selalu bilang di postingan kalo gue ini ‘sucker for a beautiful village/town”. Ke Italy kemarin pun nyarinya tetep sama. Kota kecil yang kece. Dan ketemu lah sama yang namanya Pienza.

Honestly, gue nggak pernah denger kota Pienza sebelomnya. Gue taunya cuma Val D’orcia yang sering jadi wallpaper. Baru tau kalo Val D’orcia itu ada di Pienza ya pas serius browsing. Gara-gara udah kepincut, gue pun memutusakan untuk mengunjungi Pienza. Hotel sih gampang lah dicari. Masalahnya adalah transport untuk kesana. Karena cuma punya waktu 3D2N, gue musti cari transport yang efisien dong. Dari yang gue baca-baca, ke Pienza itu cuma bisa naik Bis dari Siena, atau nyetir sendiri. Forget about driving ya, secara SIM udah mati dari kapan tau. Option berikutnya, Bis! Ada bis no. 112 yang berangkat dari Siena ke Pienza. Jadwalnya pun lumayan sering (http://www.sitabus.it/…/Siena-S.-Quirico-Pienza-Montepulcia…). Oke lah, bisa naik bis kalo gitu. Masalah berikutnya, ntar disana keliling-nya gimana? Nggak ada public transport. Ada option walking tour. Tapi mahal juga kalo sendirian doang. Udah lagi bingung-bingung, teman Couchsurfing yang pernah gue host di Singapore tiba-tiba kirim email buat ngasih tau kalo dia bisa ikutan gue ke Pienza dan bisa bawa mobil.

Yeaaaah! We’re going for a ROAD TRIP! #‎RejekiOrangKece ‪#‎Pupuran ‪#‎KibasPoni

On the D-Day, kita janjian di Florence dan langsung cuuus menuju Pienza. To my surprise, temen gue ini ternyata bela-belain road trip ke Pienza beberapa minggu sebelum gue datang supaya bisa nentuin tempat-tempat mana aja yang bagus buat dikunjungin. Bless her!

Antinori nel Chianti Classico

Tempat pertama yang kita kunjungi dalam perjalanan ke Pienza. Ini adalah perkebunan anggur terbaru milik keluarga Antinori. They’ve been in wine business for centuries. Tempat yang keliatan modern ini dibangun dengan konsep eco-friendly. Di kompleks ini ada perkebunan, pabrik pengolahan, cellar, museum & resto. Kita ikut tour selama 1 jam yang ditutup dengan wine tasting 3 jenis wine berbeda (EUR 20.00). Dan karena temen gue nyetir, dia nggak minum wine-nya, jadinya gue yang abisin juga, huahahahah. Kita juga sempat nyobain restonya untuk lunch. Konsepnya menarik. Makan di rooftop sambil ngeliatin perkebunan anggur. Mereka mendaur ulang pantat botol wine jadi gelas. UNIK. Makanannya enak & harganya juga reasonable.
More Info: http://www.antinorichianticlassico.it

1002377_10152511472954495_6687880538561029882_n 156095_10152511472964495_2859803290906896523_n

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Alat kuno buat meres anggur. GEDE banget! Gue ngebayangin makenya udah encok duluan, hahahahha.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Gudang bawah tanan tempat penyimpanan anggur

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

3 Jenis Wine yang gue cobain pas udah selesai tour. Dan gue nggak inget mana yang enak, huaahahhahahahah.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Restoran yang ada di dalam area perkebunan. Bagus ya…

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Makanannya juga enyaaaaaaak…plus pemandangannya cakep banget!

Monteriggioni

Our second stop. Ini adalah salah satu mediaeval village yang ada di sepanjang jalur menuju Pienza. Terkenal dengan 14 towernya dan juga jalur pilgrimage ‘via Francigena’. Sebenarnya kita bisa naik ke towernya, tapi karena kita sampai disana kesorean (jam 6.30), towernya udah tutup. Jadi kita muter-muter aja di dalam pusat kotanya. TER-LA-LU bagusnya. Banyak toko-toko kecil yang jual souvenir dan pernak-pernik khas. Bener-bener bikin laper mata deh. Jangan kuatir kalo mau belanja-belanja. Biarpun wujudnya ‘ANCIENT MEDIAEVAL TOWN’, mereka terima kartu kredit kok, hihihiihihi.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

10612601_10152511478594495_518200581354794341_n

1623349_10152511478609495_2738598263276330723_n

1524592_10152511478599495_8338064666812087856_n

Pienza

Keasikan muter-muter di Monteriggioni sampe nggak sadar udah jam 7.30 malam. Kita pun lanjut menuju Pienza. Disini masalah dimulai. Sang GPS kekeuh nyuruh kita lewat Panoramic Route. Sementara kita maunya fastest route. Jadilah kita dibawa muter-muter gak jelas. Padahal apa yang mau diliat cobaaaaak….udah gelap begitu. Dikata kita berdua makhluk nocturnal apah? Akhirnya setelah salah belok berkali-kali, jam 9 malam kita sampai di penginapan. Gue memilih B&B Camere Andrei seharga EUR 76.00/malam untuk kamar twin bed (termasuk sarapan). Lokasinya strategis, ada parkiran mobil, kamarnya nyaman banget, kamar mandi dalam, sarapannya simple tapi enaaaaak, dan yang punya ramah plus GANTENG *penting*

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setelah selesai mandi, kita jalan ke pusat kota-nya (Centro) yang ada dibalik tembok batu. Sepi. Cuma ada beberapa restoran dan bar yang masih buka. Itu juga udah nggak nerima tamu lagi. Gue yang lumayan kelaperan terpaksa balik ke kamar dan ngabisin entah berapa bungkus kinder brioss….dan tetep lapeeeer *mewek*.

Jam 7 pagi, gue bangun dan disambut suhu 14′ C. Sikat gigi, makan kinder brioss lagi *masih laper!*, ambil jacket & kamera, trus jalan-jalan sendiri karena temen gue masih tidur. Gue iseng aja nyusurin jalanan mobil di depan penginapan dan menemukan pemandangan yang INDAH banget. Semua yang gue lihat di Google Image, sekarang ada di depan mata! Rolling hills, Cypress trees, sinar matahari pagi, kabut, rumah batu. Trus gue masuk ke dalam Pienza Centro. Ada penduduk setempat ngobrol didepan rumahnya, ada truk kecil pengangkut kayu bakar yang lagi bongkar muatan, pastor tua yang berjalan keluar gereja. OMG, they’re living my dream. Di salah satu dinding belakang gereja gue menikmati pemandangan indah di pagi hari ditemenin sama bunyi lonceng gereja. My perfect Saturday had just began .

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Jam 8 gue balik ke penginapan untuk sarapan dan kemudian jalan-jalan lagi bareng temen gue. Kita susurin setiap lorong, keluar masuk toko, beli keju dan sekitar jam 10 kita siap-siap pergi ke Siena. Kali ini, kita ambil rute SS438 yang dikenal dengan panoramic route. Emang nggak salah deh dibilang panoramic route. Perjalanan selama 2 jam pun molor jadi 4 jam gara-gara gue bentar-bentar minta turun, huahahahhahahaha. BENERAN BAGUS. Dan yang menyenangkan, pemerintah kotanya kayak sengaja bikin spot-spot yang agak menjorok keluar jalanan jadi kita bisa berhenti dan parkir sebentar buat nikmatin pemandangannya.

Kita juga sempat mampir di San Quirico d’Orcia, another mediaeval town yang terkenal di sana. Liat-liat gereja & kapel yang ada disana dan juga….farmer’s market! Tiap Sabtu ternyata ada kayak semacam bazaar yang jualan hasil produksi para petani. Ada madu, keju, kue-kue, kerajinan tangan, dll. Gue tentunya langsung menuju stall….yang penjualnya paling GANTENG . Gak ding, gue mah nyarinya pasti makanan. Tapi emang kebetulan yang jual ganteng *tetep harus disebut* *gak terima permintaan foto*. Si mas ganteng ini jualan makanan khas Tuscany, Panforte. Ini mirip kayak fruit cake tapi teksturnya kayak dodol, hahahahha. Enak! Trus dia juga bikin biscotti dan roti. Semuanya ENAK. Mungkin karena yang bikin ganteng *dikeplak SN*. Kita juga masuk ke taman ‘Horti Leonini’. Taman ini bentuknya kayak maze pendek dengan patung Cosimo III de’ Medici.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Setelah puas, kita lanjut ke Siena dan sempat berhenti sebentar di Asciano untuk makan siang. Asciano ini separo modern dan nggak terlalu menarik buat gue. So, I will not explain anything about this town. Gak punya fotonya juga, hahahhaha.

Siena

Kita sampai di Siena udah agak sore. Town centre-nya lebih mirip Florence & Bologna. Ramai tapi tetap nyaman untuk dinikmati.

Menjelang malam, gue denger ada suara gedombrangan di dekat Piazza del Campo. Karena penasaran, gue cari dong tuh sumber suara dan menemukan rombongan orang berbaris di salah satu jalan, lengkap dengan penabuh drum & pembawa bendera. Masih nggak ngeh juga sih ada apaan sebenernya, sampai tiba-tiba temen gue dengan muka kaget bilang, “OMG, I’ve totally forgotten about this! Today is the victory dinner of the winning contrada! Contrada del Drago”. Dan gue pun langsung pasang tampang -WTH-is-this-contrada-thing-.

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Dan temen gue pun memulai dongengnya. In short, Siena punya acara bareback horse race (tanpa pelana) yang diadakan di Piazza del Campo 2x dalam setahun, yaitu setiap tanggal 2 Juli & 16 Agustus. Nah, horse race yang dikenal dengan nama Palio di Siena (or simply just ‘Palio’) ini diikuti oleh 10 dari 17 Contrada yang ada di Siena (gue bayanginnya kayak semacam kelurahan gitu deh kalo di Indo). Nah, Palio bulan Juli kemarin dimenangkan oleh Contrada del Drago. Dan tgl 27/09 kemarin itu adalah perayaan besarnya. Mereka berjalan keliling kota dengan iringan musik. Di depan iring2an ada penabuh drum, 2 pembawa bendera Contrada dan pembawa drappellone (painted silk cloth yang dibawa pulang oleh Contrada pemenang Palio).

It was amazing. Tua muda semuanya ikut berpartisipasi dalam parade. Kayaknya seru deh kalo bisa ikutan nonton Palio-nya :D.

10394536_10152511482454495_174654246105298669_n

 

Banca Monte dei Paschi di Siena

The oldest surviving bank in the world and Italy’s third largest bank. Founded in 1472 by the magistrate of the city state of Siena, Italy, as a “mount of piety”, it has been operating ever since – Source: WIKIPEDIA

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

 

Karena keasikan nonton parade, kita baru melihat duomo-nya pas udah gelap. Gak bisa masuk juga. Gila megahnya! Udah malem begini malah tambah anggun bangunannya 🙂

Berbekal pizza yang kita beli di Siena, kita balik ke Pienza. Tapi sebelumnya, kita mampir dulu di Bagno Vignoni, pemandian air panas yang terkenal. Temen gue ngajak ke Posta Marcucci, sebuah hotel yang memiliki thermal bath. Cukup bayar EUR 10.00 untuk night thermal bath (9pm to midnight), dan silahkan berendam sepuasnya. Oh iya, wajib pake head cap ya. Kalo nggak musti beli seharga EUR 2.00. Setelah seharian jalan-jalan, rasanya nyeeeeeesss banget pas nyemplung ke kolam. Kolam sumber air panasnya sendiri sebenernya masih ada. Tapi ditutup untuk umum.

10659328_10152511483089495_186262576999149718_n

9741_10152511483099495_6940712701095690994_n1

Sumber air panas yang sekarang udah ditutup untuk umum

Balik dari Bagno Vignoni udah hampir tengah malem dan langitnya cerah banget. Alhasil kita malah berenti di pinggiran jalan, nangkring di kap mobil sambil leyeh-leyeh liatin bintang. Di Jakarta atau di Singapore nggak bisa beginiiiiiih, hahahahahahha. Kapan coba terakhir kali gue liat bintang? Nggak inget. Ini satu langit penuh sama bintang kelap-kelip. Trus temen gue nunjukin rasi-rasi bintang. Gila, scene-nya romantis banget gak sih! Sayang aja temen gue cewek juga, huahahahahahha.

Sampe di Pienza, gue langsung beres-beres koper. Trus paginya ngibrit ke gereja buat Misa. Udah pede jaya masuk Katedralnya, eh taunya salah tempat. Misa pagi adanya di gereja yang kecil, hahahahahha. Terbirit-birit lah gue kesana. Selesai Misa gue balik ke hotel buat bayar-bayar, trus bareng temen gue balik ke Centro buat nikmatin Pienza terakhir kalinya.

1016461_10152511480029495_1157232318967226443_n1

1653786_10152511480019495_3645936453176538691_n

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Beraaaaaat banget kayaknya ninggalin ini kota. Someday gue pasti akan balik ke Pienza. PASTI!!! Untuk saat ini…gue cuma bisa bilang, ” CIAO,….BELLA!” *kemudian gegulingan di rumput*.

Perjalanan gue ke Pienza jadi penutup Italy Trip gue. Balik dari Pienza, gue dianter ke Florence trus naik kereta balik ke Roma dan terbang pulang ke Singapore. Overall gue puas banget sama trip gue ini. I was so damn lucky! Udahlah ketemu Papa Francesco dari deket, ke Bologna pas ada festival jazz, pas ke Siena bisa ngeliat Palio winner parade, bisa dapet cuaca cerah di Pienza (karena sebelomnya kata temen gue ujan melulu). Bahkan ya sampe naik kereta aja itu pintu gerbong gue berenti pas depan gue (padahal gue nggak tau urutan gerbongnya, hahahahahhaha).

See you next year, Italy!

About erlia

Page with Comments

  1. Gasping mulu gw lihat potonya Er. Itu yang tinggal di situ kalo jalan di tempat lain bakalan memandang biasa aja kali ya. Btw kenapa harus pake cap sih kalo berendem?

Comments are closed.

%d bloggers like this: